YANG MUDA, YANG BIJAKSANA

Sabtu, 05 Jan 2019, 15:21:42 WIB - 678 View
Share

Author : Riana Sahrani

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta

Korespondensi : rianas@fpsi.untar.ac.id

 

Fenomena yang ada saat ini di negara kita adalah terlihat orang kurang bijaksana dalam berperilaku atau dalam menyelesaikan permasalahannya, misalnya maraknya peristiwa bullying di kalangan siswa, para pesohor menggunakan obat terlarang, terjadinya korupsi di berbagai kalangan masyarakat, dan lain sebagainya. Situasi ini menimbulkan pertanyaan, apakah memang kebijaksanaan itu sendiri sudah ‘mati’ di kehidupan kita?

Selanjutnya, beberapa hasil penelitian menemukan bahwa menjadi orang yang bijaksana itu perlu waktu, sehingga pantaslah orang yang sudah tua (dalam hal ini orang lanjut usia/lansia) ‘dinobatkan’ sebagai orang yang berpotensi untuk menjadi orang yang bijaksana. Namun benarkah demikian?

 

Apakah kebijaksanaan itu?

Kebijaksanaan diartikan sebagai suatu kepandaian individu dalam menggunakan akal-budinya, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan; bersamaan dengan pengintegrasian pikiran, perasaan, dan tingkah laku; serta adanya kemauan untuk mengevaluasi diri, dalam menilai dan memutuskan suatu masalah, sehingga tercipta keharmonisan antara individu dan lingkungan (Sahrani, Matindas, Takwin, & Mansoer, 2014).

 

Asal-muasal teori kebijaksanaan

Topik mengenai kebijaksanaan pertama muncul sebagai pembahasan dalam ilmu Filsafat (Robinson, 1990). Topik ini kemudian dikembangkan oleh Sokrates dan dilanjutkan oleh para pengikutnya,  seperti Plato dan Aristoteles. Plato menekankan bahwa orang yang bijaksana akan selalu mencari kebenaran sepanjang hayatnya. Maka dari itu kita harus berjuang untuk menjadi orang yang bijaksana.

 

Apakah penting untuk bisa menjadi orang yang bijaksana?

Kebijaksanaan penting untuk dimiliki oleh semua orang, tidak terkecuali para remaja. Hal ini karena kebijaksanaan menuntun kita untuk selalu bertindak benar, sehingga keharmonisan dalam masyarakat menjadi terjaga. Dengan begitu, kedamaian dalam kehidupan individu, masyarakat, dan dunia ini akan lebih mudah tercapai.

 

Bagaimana kebijaksanaan itu diperoleh?

Hasil penelitian Sahrani dkk (2014) menghasilkan temuan bahwa orang yang bijaksana itu melakukan refleksi terhadap pengalaman hidup sulitnya. Setiap individu dapat diperkirakan pernah mengalami pengalaman hidup yang sulit, yang sifatnya individual dan subyektif bagi yang mengalaminya. Maka apabila ia melakukan refleksi diri atau mengevaluasi pengalaman tersebut dengan cara-cara yang sesuai dan benar (misalnya dengan strategi refleksi self-distanced), ia pun dapat berpotensi menjadi orang yang bijaksana. Selain itu menurut Baltes dan Staudinger (2000), orang dapat menjadi bijaksana apabila ada beberapa faktor yang ia miliki, yaitu: faktor umum, faktor khusus, dan faktor tambahan. Faktor umum antara lain adanya kemampuan umum/intelegensi yang memadai untuk memecahkan atau mencari solusi masalah, adanya kesehatan mental, keterbukaan terhadap hal atau pengalaman baru, kematangan emosi). Faktor khusus misalnya: adanya pengalaman mengatasi masalah, berlatih pada role model dalam mengatasi masalah, serta adanya motivasi untuk mencapai kesempurnaan.

 

Kaitan usia dengan kebijaksanaan

Ada beberapa pandangan yang berbeda mengenai kapan waktunya orang bisa menjadi bijaksana. Pandangan pertama menyatakan bahwa orang akan berpotensi menjadi bijaksana ketika berusia lanjut, bahkan disebutkan ketika berusia sekita 61 tahun ke atas (Helson & Srivastava, 2002). Namun pada pandangan kedua menyatakan bahwa semua orang bisa menjadi orang yang bijaksana, tidak terkecuali remaja karena mereka sudah mempunyai bibit-bibit kebijaksanaan (Pasupathi & Staudinger, 2001). Penelitian penulis juga membuktikan bahwa remaja pun sudah mempunyai standar sendiri mengenai apa saja yang menjadi karakteristik orang yang bijaksana (Sahrani, 2018). Apasajakah karakteristik tersebut akan dijelaskan berikut ini.

 

Apakah ciri-ciri orang yang bijaksana?

Basri (2006) menemukan lima karakteristik orang yang bijaksana, menurut pandangan orang Indonesia. Kelima karakteristik itu adalah: (a) kondisi spiritual-moral (bertakwa, religius/beriman, saleh, tawakal, sederhana/bersahaja kehidupannya, tutur kata halus/lemah lembut/sopan santun, tabah, dan tegas), (b) kemampuan hubungan antar manusia (murah hati, mau berkorban, penyayang pada semua, tulus ikhlas, mengayomi/melindungi, pemaaf, penuh pengertian), (c) kemampuan menilai dan mengambil keputusan (meninjau permasalahan dari berbagai sudut pandang, lebih memperhatikan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi, mampu memutuskan secara tepat, filosofis/berpandangan menyeluruh terhadap kehidupan, adil), (d) kondisi personal (mawas diri, bertanggungjawab, konsekuen, percaya diri), dan (e) kemampuan khusus/istimewa (cerdas/kompeten, intuitif, berpengetahuan dan berwawasan luas, berempati).

Hasil penelitian Sahrani (2018), menemukan bahwa karakteristik orang yang bijaksana menurut remaja terdiri dari 3 faktor, yaitu: “Berpikir Cerdas” (terdiri dari 15 karakteristik); “Kepribadian Positif” (terdiri dari 17 karakteristik); dan “Keterandalan dalam Bertindak” (terdiri dari  12 butir). Butir yang paling berkontribusi dari Faktor Berpikir Cerdas adalah “hati-hati dalam bertindak” (.790); selanjutnya butir yang paling berkontribusi dari Faktor Kepribadian Positif adalah “setia” (.701); terakhir butir yang paling berkontribusi dari Faktor Keterandalan dalam Bertindak adalah “mampu memgemukakan pendapat dan berkomunikasi” (.731). Jadi ada sedikit perbedaan antara hasil penelitian Basri (2006) dengan Sahrani (2018). Perbedaan ini dapat saja terjadi karena beberapa hal: penelitian Basri dilakukan pada tahun 2001, sehingga mungkin saja terjadi pergeseran budaya dan nilai di Indonesia (walau hal ini membutuhkan penelitian lanjutan). Argumentasi lainnya adalah hal ini dapat terjadi karena pada penelitian Basri yang diteliti adalah orang yang berusia mulai dewasa muda, dewasa madya, dan lanjut usia, sedangkan dalam penelitian Sahrani yang diteliti adalah para remaja.

Selanjutnya, perbedaan penelitian Basri dan Sahrani terletak pada butir atau item hasil analisis faktor, yaitu pada penelitian Sahrani terdapat butir karakteristik orang yang bijaksana menurut remaja. Butir yang berbeda tersebut adalah: orang yang bijaksana mempunyai karakteristik amanah, humoris, mempunyai hati nurani, mempunyai sikap nasionalisme, bersyukur, dan memperhatikan kerapihan. Jadi para remaja dalam penelitian ini berpandangan bahwa orang yang bijaksana mempunyai karakteristik tertentu, khususnya ‘mempunyai sikap nasionalisme’. Pandangan ini belum ada dalam penelitian sebelumnya, sehingga penulis dkk (Sahrani, Suyasa, & Basaria, 2018) memandang perlu untuk meneliti hal tersebut. Kami kemudian membuat penelitian mengenai alat ukur “Kebijaksanaan Berbasis Pancasila” (KBP), yang masih terus dikembangkan hingga saat ini.

 

Apakah kebijaksanaan itu bisa dipelajari?

Pengalaman hidup sulit sangat bermanfaat untuk dijadikan refleksi diri, dalam hal ini oleh remaja.

Jadi remaja yang mempunyai pengalaman hidup sulit yang lebih berpotensi menjadi orang yang bijaksana. Grossman (in press, 2018) melakukan penelitian mengenai hal ini dan menyarankan untuk mengajarkan kebijaksanaan melalui pelajaran filsafat. Selain itu Ardelt (2018) bahkan sudah meneliti kebijaksanaan dengan cara memberikan intervensi pada para mahasiswa, yaitu berupa pelajaran filsafat, khusus mengenai kebijaksanaan. Sedangkan menurut penulis sendiri, remaja berpotensi untuk menjadi orang yang bijaksana, sehingga mereka dapat diajarkan dan dilatih untuk menjadi orang yang bijaksana, misalnya dengan kurikulum tertentu yang terkait kebijaksanaan. Akan tetapi para remaja tetap memerlukan contoh dan arahan dari orang terdekat misalnya orangtua dan guru, sehingga potensi kebijaksanaan akan berkembang lebih optimal dan lebih cepat.

 

Hubungan kebijaksanaan dengan hal-hal positif

Kebijaksanaan berkaitan erat dengan banyak hal positif dalam kehidupan, sebagai contoh dengan karakter positif dari kepribadian seseorang (Sternberg & Jordan, 2005). Selain itu dengan  kemampuan bersosialisasi, kecerdasan sosial, dan minimnya kecemasan (Staudinger, Lopez, & Baltes, 1997), adanya kemauan belajar, menolong tanpa pamrih, pengetahuan dan ketrampilan hidup, pengorganisasian emosi, pengambilan keputusan, kepemimpinan, pengetahuan diri (Greene & Brown, 2009) dan penalaran moral (Pasupathi dan Staudinger (2001). Kebijaksanaan juga berhubungan dengan kebahagiaan (Bergsma & Ardelt, 2011),  kesejahteraan (Taylor, Bates & Webster, 2011), dan kepuasan hidup (Takahashi & Overton, 2002), makna hidup (Ardelt, 2008), dan rasa bersyukur atau berterima kasih (Choi & Landeros, 2011).

 

Daftar Pustaka

Ardelt, M. (2008). Being wise at any age. In S. J. Lopez (Ed.), Positive psychology:Exploring the best in people, Vol. 1: Discovering human strengths (pp. 81–108).Westport, CT: Praeger.

Ardelt, M. (2018): Can wisdom and psychosocial growth be learned inuniversitycourses?. Journal of Moral Education, DOI: 10.1080/03057240.2018.1471392.

Baltes, P. B., & Staudinger, U. M. (2000). Wisdom: A metaheuristic (pragmatic) to orchestrate mind and virtue toward excellence. American Psychologist,  55, 122-135.

Basri, A. S. (2006). Kearifan dan manifestasinya pada tokoh-tokoh lanjut usia. Makara, Sosial Humaniora, 10(2), 70-78.

Bergsma, A.,& Ardelt, M. (2011). Self reported wisdom and happiness: An empirical investigation. Journal Happiness studies. doi: 10.1007/s10902-011-9275-5

Choi, N.,& Landeros, C. (2011). Wisdom from life’s challenges: Qualitative interviews with low-and moderate-income older adults who were nominated as being wise. Journal of Gerontological Social Work, 54, 592–614.

Greene, J. A., & Brown, S. C. (2009). The wisdom development scale: Further validityinvestigations. International Journal of Aging and Human Development, 68(4),289-320.

Grossmann, I. (2018). Wisdom and how to cultivate it: Review of emerging evidence for a constructivist model ofwise thinking. In press in European Psychologist. Doi.org/10.1027/1016-9040/a000302

Helson, R., & Srivastava, S. (2002). Creative and wise people: Similarities, differences and how they develop. Personality and Social Psychology Bulletin, 28, 1430–1440.

Pasupathi, M., Staudinger, U. M., & Baltes, P. B. (2001). Seed of wisdom:Adolescents’ knowledge and judgment about difficult life problems. Developmental Psychology, 37, 351-361.

Robinson, D. N. (1990). Wisdom through the ages. In R. J. Sternberg (Ed.), Wisdom: Its nature, origins, and development (pp. 13-24). New York: Cambridge University.

Sahrani, R., Matindas, R. W., Takwin, B., & Mansoer, W. W. (2014). The role of reflection of difficult life experiences on wisdom. Journal of the Indian Academy of Applied Psychology, 40(2), 315-323.

Sahrani, R., Suyasa, P. T. Y. S., & Basaria, D. (2018). Kebijaksanaan berbasis Pancasila dan pengukurannya. Dalam Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa 3: Psikologi dan Pendidikan dalam Konteks Kebangsaan (hal. 433-455). Jakarta, Indonesia: Himpunan Psikologi Indonesia.

Staudinger, U. M., Lopez, D. F., & Baltes, P.B. (1997). The psychometric location of wisdom-related performance: Intelligence, personality, and more? Personality and Social Psychology Bulletin, 23, 1200-1214.

Sternberg, R. J., & Jordan, J. (Eds.). (2005). A handbook of wisdom: Psychological perspectives. Cambridge, England: Cambridge University Press.

Takahashi, M.,&Overton, W. F. (2002). Wisdom: A culturally inclusive developmental perspective. International Journal of Behavioral Development, 26(3), 269-277.

Taylor, M., Bates, G., & Webster, J. D. (2011). Comparing the psychometric propertiesof two measures of wisdom: Predicting forgiveness and psychological wellbeingwith the Self-Assessed Wisdom Scale (SAWS) and the Three-DimensionalWisdom Scale (3D-WS). Experimental Aging Research, 37(2), 129–141.

 

 

section-title

Agenda Kegiatan